WELCOME TO GO BLOG

The content presented here requires JavaScript to be enabled and the latest version of the Macromedia Flash Player. If you are you using a browser with JavaScript disabled please enable it now. Otherwise, please update your version of the free Flash Player by downloading here.

Minggu, 10 Juli 2011

De-KULTURISASI ANCAM KARAKTER ANAK BANGSA

                                   (Reflection of the Rising Nationalism) 
Penulis: Sarmuji, M.Pd.
  
            Para pendahulu kita bilang bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan berbagai ragam kekayaannya, sumber daya alam dan manusia yang dapat menjadi potensi negara untuk lebih maju dan makmur. Alangkah naifnya kita sebagai anak-anak bangsa yang tidak dapat mengemban amanat para pendahulu kita untuk menjaga membina dan mengembangkan potensi ragam kekayaan dan asset-asset bangsa ini sebagai modal memajukan dan memakmurkan rakyat sebagaimana yag diamanatkan oleh UUD 1945. Bisakah negeri ini maju dan makmur? Banyak orang paham dengan apa yang disampaikan ini namun kenyataanya banyak kondisis-kondisi tertentu yang kurang/tidak mendukung sehingga pemahaman ide-ide mereka hanya menjadi konsepsi dan retorika berfikir belaka. Kita sebenarnya mampu untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut manakala ada parameter-parameter yang jelas terhadap apa yang akan dilakukan oleh setiap warga negara terhadap negaranya. Kejujuran, keberanian, nasionalisme dan kebersamaan ternyata sangat penting dibutuhkan. Sikap mental ini akan menjadi modal yang besar untuk menyikapi realita perjalanan sejarah bangsa ini yang masih selalu ketinggalan dengan Negara-negara tetangga. Kemiskinan akan mental tadi yang telah menjerumuskan bangsa ini pada posisi berbanding berbalik atas konsepsi Negara Gemah Ripah Lohjinawi Tata Tentrem Kertaraharja.
            Tentunya kita masih ingat dan selalu diingatkan oleh media-media informasi bahwa korupsi-kolusi-nepotisme, kriminalitas, kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya disekitar kita masih marak terjadi dengan progresivitas cara dan teknik yang beraneka ragam. Sudah barang tentu korupsi membuat negara dan rakyat melarat, kriminal membuat masyarakat tidak aman, kemiskinan bisa membuat orang gelap mata dan mencetak generasi muda kurang gizi. Masih banyak lagi krisis-krisis sosial dan moral yang bersumber pada de-humanization (=tidak memanusiakan manusia) baik yang dilakukan masyarakat, aparat pemerintahan, dan stake holder lainya. How to stop and solve them? Kita mau mencari model pendidikan yang bagaimana untuk mengembalikan dan mengembangkan karakter bangsa ini untuk lebih cerdas, arif dan bijaksana.
            Ada berbagai macam pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan organisasi-organisasi kemasyarakatan (Non Government Organization) untuk melakukan pendidikan dan pelatihan terhadap generasi muda kita. Hal ini mengingat bahwa salah satu diantara kekayaan negeri ini adalah Sumber Daya Manusia (Man Power). Kita sebenarya sangat diuntungkan dengan kwantitas usia produksi angkatan kerja pasca 2015 yang mana jumlah nereka jauh lebih besar dibanding dengan penduduk yang tidak produktif.  Belumlah cukup kita bicara angkatan kerja saja, Sumber Daya Alam kita masih memberikan jaminan kepada rakyat ini untuk hidup makmur, bisa kita bayangkan manakala terjadi krisis energi dunia? Alam kita masih menyimpan kekayaan yang belum bisa dikelola dengan baik (renewably and undeniably). Banyak kekayaan alam yang tidak dimiliki oleh Negara lain tetapi kita mempunyai stok yang lebih. Sekarang tergantung kita bagaimana seharusnya mengelola kedua sumber utama tadi. Dengan metode apa mengendalikan, teknik dan strategi yang bagaimana yang bisa dipakai?
            Dengan bertaburanya krisis sosial dan ekonomi sepanjang Sabang sampai Merauke kita perlu sekali untuk memikirkan bagaimana kedua sumber daya tadi bisa merubah wajah-wajah di negeri ini  selama 64 tahun muram durja menjadi ceria dan bersemaangat dengan kondisi kehidupan yang lebih layak dan mapan. Apa yang menjadi kendala selama ini? Tentu kita tidak akan membahas masalah metode dan teknik kerja dahulu. Ada yang jauh lebih penting dari itu, bagaimana menata kembali sikap mental dan perilaku bangsa ini untuk menjadi bangsa yang besar. Kendala yang kita hadapi selama ini adalah krisis mental yang berkepanjangan sehingga menghasilkan perilaku-perilaku minor pada aparat pemerintah, wakil rakyat, penegak hukum, pelaku bisnis, serta masyarakat secara luas. Perilaku-perilaku merekalah yang selama ini menjadi peran antagonis dalam pranata kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi ini tidak akan pernah menghasilkan output yang baik, good and clean governance, masyarakat yang makmur, generasi yang cerdas dan berbudaya, pemerataan kesejahteraan  akan jauh dari angan-angan kita.
            Apa yang terjadi dengan keadaan selama ini? Kita kurang mawas diri, ternyata kita adalah bangsa yang mudah lupa akan jati dirinya. Pepatah jawa mengatakan wong jawa ilang jawane artinya bangsa kita mudah kehilangan karakter dan kulturnya. Karakter dan perilaku yang antagonis dan menyimpang tadi ternyata tidak ada dalam kamus budaya kita sebagai bangsa timur yang teguh mempertahankan jati dirinya. Barangkali ide ini akan menjadi suatu model pendekatan baru dalam melakukan proses pendidikan secara umum terhadap generasi kita dengan kembali ke kultur asli (back to culture).
Bagaimana selama ini bisa terjadi de-kulturisasi? Ada beberapa indikator yang memicu hal ini terjadi. Sebagai contoh dalam dunia pendidikan kita banyak sekali kebijakan yang terintervensi oleh kepentingan politik dan pihak-pihak tertentu; kurikulum yang berubah-ubah, lembaga pendidikan sebagai ladang bisnis; serta pemalakan proyek-proyek pendidikan, sebagai akibat target pendewasaan terhadap peserta didik tidak bisa optimal karena aspek knowledge, psychomotor, dan affective yang menjadi main set dari tujuan pedidikan tidak bisa tergarap dengan baik. Bidang ekonomi juga demikian, kapitalisme sudah menjadi momok besar. Setiap sendi kehidupan sudah diukur dengan uang, masyarakat sudah banyak diajari dengan gaya hidup utang, asas-asas ekonomi kerakyatan sudah luntur, akhirnya harga diri dan jati diri manusia digadaikan untuk menebus kapitalisme.
Belumlah cukup sebelum kita menyinggung peranan media masa, kususnya televisi. Media TV sudah menjadi hiburan yang sangat murah dan meriah pada masyarakat kita. Hal ini akan sangat mudah sekali untuk memprovokasi dan memprogpaganda mereka sehingga apa yang ditayangkan akan membentuk image dan kesimpulan-kesimpulan yang kurang baik. Sebagai contoh, tayangan kriminal bisa ditiru oleh siapapun, tema-tema sinetron banyak menampilkan masalah-masalah penyakit sosial dan hati; seperti kekerasan dalam rumah tangga, iri dengki,pertengkaran dan lain sebagainya dengan karakter/peran yang nyaris sempurna akan berpengaruh terhadap sikap dan gaya hidup masyarakat. Kita bisa banyak melihat tayangan yang menonjolkan peran/karakter antagonisnya dibanding dengan protagonist. Hikmah apa yang bisa diambil? Justru dominasi penjiplakan karakter yang terjadi (character imitations). Belum lagi pengaruh TV terhadap anak, bagaimana mereka bisa dan mau belajar jika setiap hari dicekoki tayangan-tayangan yang bisa membuat mereka kecanduan menonton (programme abuse)? Pelajaran sekolah akan menjadi onggokan tanggungjawab yang terbengkalai, so pasti. Kita rasa masih banyak lagi yang bisa kita kaji.
Dengan bermodal kembali ke kultur (back to culture), pendidikan bangsa ini akan mampu untuk menyelasaikan permasalahan-permasalahan selama ini terjadi. Kita berharap akan melihat pranata kehidupan dalam berbangsa dan bernegara yang lebih baik, tidak ada lagi gedung sekolah ambruk, siswa terusir dari kelasnya, anak-anak kelaparan dan kedinginan dibawah kolong jembatan, kekerasan aparat negara kepada rakyat, dan yang terpenting adalah manusia sudah memanusiakan manusia lainnya.

http://yourresponsebrief.blogspot.com